Kota Sorong – Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sorong, Muhudar Wailegi, secara resmi membuka kegiatan pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bagi seluruh guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kota Sorong. Acara yang berlangsung di MI Al-Ma’arif ini diselenggarakan bekerja sama dengan Penerbit Erlangga sebagai mitra strategis dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran di lingkungan madrasah.
Muhudar Wailegi menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta adalah pendekatan pendidikan yang menempatkan kasih sayang sebagai fondasi utama dalam membangun karakter peserta didik. Menurutnya, pendidikan di madrasah tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian nilai akademik semata, melainkan harus seimbang dengan pembentukan akhlak mulia, kepribadian yang tangguh, serta penanaman nilai-nilai kemanusiaan.
“Guru memegang peran yang sangat strategis dalam membentuk generasi masa depan. Oleh karena itu, proses pembelajaran harus mampu menghadirkan suasana yang aman, nyaman, dan menyenangkan, serta menumbuhkan rasa cinta kepada Allah SWT, sesama manusia, bangsa, dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Ia juga mengajak para pendidik untuk terus berinovasi dalam mengelola pembelajaran, termasuk memanfaatkan kemajuan teknologi secara bijaksana tanpa harus meninggalkan nilai-nilai keislaman dan jati diri karakter madrasah.
Pada kesempatan tersebut, Muhudar menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Penerbit Erlangga yang selama ini telah menjadi mitra setia dunia pendidikan, baik melalui penyediaan buku pelajaran berkualitas, media pembelajaran yang mendukung, pelaksanaan program literasi, maupun kegiatan penguatan kompetensi bagi para guru.
Ia menekankan bahwa kolaborasi yang erat antara Kementerian Agama, pengelola madrasah, tenaga pendidik, orang tua peserta didik, serta mitra pendidikan merupakan kunci utama dalam mewujudkan sistem pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing.
“Melalui kegiatan ini, saya berharap implementasi Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya dipahami sebatas konsep semata, melainkan benar-benar diterapkan dalam proses pembelajaran, budaya madrasah, hingga interaksi sehari-hari antara guru dan siswa. Dengan demikian, kita dapat melahirkan generasi yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, moderat, serta siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” pungkas Muhudar Wailegi.