Kota Sorong – Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sorong, Muhudar Wailegi, menegaskan pentingnya implementasi Kurikulum Berbasis CINTA melalui pembelajaran mendalam (deep learning) dan penguatan media digital sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan pendidikan di era transformasi teknologi.
Dalam penyampaian materinya, Muhudar Wailegi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), telah mengubah pola belajar peserta didik. Karena itu, guru dituntut tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu menghadirkan proses pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, serta berorientasi pada pembentukan karakter.
Ia menjelaskan bahwa implementasi merupakan proses menerapkan kurikulum ke dalam praktik nyata di ruang kelas. Menurutnya, kurikulum tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif, melainkan harus diwujudkan melalui cara guru mengajar, membimbing, memberi teladan, dan melakukan evaluasi terhadap peserta didik.
“Kurikulum adalah peta, sedangkan implementasi adalah perjalanan menuju tujuan pendidikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Muhudar Wailegi memaparkan bahwa Kurikulum Berbasis CINTA menempatkan nilai kasih sayang, penghargaan terhadap martabat manusia, serta hubungan harmonis dengan Allah SWT, sesama manusia, lingkungan, bangsa, dan ilmu pengetahuan sebagai fondasi pendidikan.
Nilai-nilai CINTA yang dimaksud meliputi Cinta kepada Allah SWT, Integritas, Nasionalisme, Toleransi, dan Adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Menurutnya, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berpikir kritis, kreatif, mampu bekerja sama, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan konsep pembelajaran mendalam yang menekankan pemahaman secara utuh sehingga peserta didik mampu menghubungkan ilmu dengan kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan ini, siswa didorong untuk bertanya, berdiskusi, menganalisis, memecahkan masalah, berkolaborasi, menghasilkan karya, hingga melakukan refleksi atas proses belajarnya.
Selain itu, penguatan media digital dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran. Berbagai platform seperti presentasi interaktif, video pembelajaran, Canva, Google Classroom, Google Form, Quizizz, Kahoot, hingga pemanfaatan AI secara bertanggung jawab dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan efektif.
Meski demikian, Muhudar Wailegi menegaskan bahwa teknologi tidak akan pernah menggantikan peran guru. Menurutnya, teknologi hanya menyediakan informasi, sedangkan guru tetap menjadi sosok yang mendidik, membimbing, menginspirasi, menjadi teladan, dan membentuk karakter peserta didik.
Sebagai contoh implementasi, ia menggambarkan pembelajaran Biologi di MAN Kota Sorong yang mengajak peserta didik mengamati lingkungan sekolah, mendokumentasikan hasil pengamatan menggunakan telepon genggam, membuat video pembelajaran, mengunggah hasil proyek, serta mendiskusikan solusi pelestarian lingkungan berdasarkan nilai-nilai Islam. Model pembelajaran seperti ini dinilai mampu mengintegrasikan penguatan karakter, pembelajaran mendalam, dan pemanfaatan teknologi digital.
Muhudar Wailegi juga mengajak seluruh guru untuk terus meningkatkan kompetensi dan menjadi pendidik yang mengajar dengan hati, memberi keteladanan, serta memanfaatkan teknologi secara bijaksana.
Ia berharap implementasi Kurikulum Berbasis CINTA melalui pembelajaran mendalam dan penguatan media digital dapat menjadi gerakan bersama dalam membangun generasi yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, kreatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki daya saing global.
“Ketika guru mengajar dengan cinta, peserta didik akan belajar dengan semangat, dan madrasah akan menjadi tempat lahirnya generasi yang unggul, moderat, dan siap menjadi pemimpin bangsa di masa depan,” tutupnya.